Curi Bra dan Kolor Istri Polisi, Rambe Diancam 7 Tahun Penjara

Editor: kairos author photo
foto ilustrasi | kompas

KAIROS - Curi bra dan kolor istri polisi  seorang pria diadili di Pengadilan Negeri (PN) Rokan Hilir (Rohil). Terdakwa S Rambe yang diduga telah mencuri kolor dan bra milik istri polisi Rohil pada Kamis 30 April 2020 lalu dimintai pertanggungjawabannya oleh majelis hakim..

Sidang beragendakan putusan sela yang digelar Rabu (2/9/2020) dipimpin ketua majelis hakim Muhammad Hanafi Insya SH MH, sementara jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejari Rohil diwakili Maruli Sitanggang. Sedangkan terdakwa didampingi kuasa hukum Selamet Sempurna Sitorus SH, Rani Stavani Girsang SH.

BACA SELENGKAPNYA | Simak 12 Manfaat Jeruk Purut untuk Sehat dan Cantik

Dalam putusan Sela yang dibacakan majelis hakim menyatakan surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum telah memenuhi syarat materil. Dimana eksepsi penasehat hukum tidak dapat diterima dan memerintahkan penuntut umum (JPU) untuk melanjutkan pemeriksaan perkara terdakwa, bunyi putusan yang dibacakan majelis hakim.




Kuasa Hukum Terdakwa Kecewa

Atas putusan majelis hakim tersebut kuasa hukum terdakwa sangat kecewa sekali. 

"Ya, kami selaku kuasa hukum terdakwa sangat kecewa sekali atas putusan majelis hakim, kata Selamat Sempurna Sitorus SH, Jumat (4/9/2020).

BACA JUGA | Tarigan Tewas di Ladang, Tangan Terpotong? Kepala pun Berdarah

"Tapi kami sangat menghormati putusan Sela dari majelis hakim dalam eksepsi terdakwa, namun, menurut hemat kami, hal itu sangat miris seolah hukum itu ternyata akan menjadi ajang pembalasan dendam terhadap terdakwa. Sebabnya, yang kita khawatirkan kekonyolan hukum yang tidak masuk akal sehat kita. Masa hanya mencuri 2 helai bra tanpa merk, 1 helai kolor merk bontex dan 1 helai kolor tanpa merk dengan kerugian Rp 150.000 (seratus lima puluh ribu rupiah) harus menjalani hukuman yang ancamannya maksimal 7 tahun, sesuai pasal yang dikenakan terhadap terdakwa dengan pasal 363 ayat 2 K- 3 KUHPidana. Hal ini sangat luar biasa dan tidak masuk akal sehat kita. Saya merasa itu semua tidak manusiawi," keluh Selamat Sempurna Sitorus SH.

BACA PULA | Gultom Pelaku KDRT 'Gol' Kasus Sabu, Lagu Lamanya Jebak Ucok

''Selanjutnya kami selaku penasehat hukum terdakwa mendalilkan dakwaan disusun atas BAP yang cacat hukum, dakwaan dan berkas perkara tidak diberikan penuntut umum kepada terdakwa atau penasehat hukumnya, eksepsi terhadap surat dakwaan yang tak jelas, penuntut umum tdak menghadirkan saksi ahli untk memeriksa kondisi psikologi terdakwa, JPU tidak mempertimbangkan peraturan kejaksaan RI No 15 THN 2020 tentang penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif. 

ARTIKEL LAIN | Seorang Wanita Tewas Saat Berhubungan Badan dengan Pria Beristri

Akan tetapi hakim menolak seluruh eksepsi terdakwa dengan salah satu alasan telah menyentuh pokok perkara.''

''Sebagaimana dimaksud pada poin-poin di atas, sangatlah jelas majelis hakim tidak mempertimbangkan putusan Selanya sebagaimana yang kami maksud,'' ungkap Selamat Sempurna saat itu didampingi pengacara, Rani Stavani Girsang SH.


Minta Saksi Korban Hadir di Persidangan

"Kami juga akan menunggu dalam pembuktian di muka persidangan nanti, apakah kedua korban yaitu oknum anggota Polri  beserta istrinya akan dihadirkan selaku saksi korban. Kami mengharapkan saksi korban tidak bisa hadir. Kami tidak mau ada alasan klasik belaka oleh jaksa untuk tidak bisa menghadirkan korban," harap Selamat Sempurna. 

Sahabat KAIROS, apapun alasannya, jangan ditiru ya aksi terdakwa!

reporter | ans

sumber | riausky

Share:
Komentar

Berita Terkini