Jonar Tamba: 3 Pasangan Pelajar Digerebek Cuma Pakai Handuk

Editor: kairos author photo


Pasangan pelajar yang digerebek dengan modus diskusi hingga larut malam. foto | riausky

KAIROS - WARGA menggerebek sejumlah pelajar di sebuah rumah yang ngakunya sedang belajar kelompok, namun karena aktivitasnya mencurigakan, warga pun mengambil tindakan.

Peristiwa itu terjadi di Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai-Sumatera Barat. 

Mereka ketahuan berbuat terlarang di rumah salah satu remaja itu, di Jalan Raya Tuapejat, Sipora Utara. 


Warga Sempat Resah Tingkah Mereka

Sebelum digerebek, masyarakat setempat dibuat resah melihat pelajar berpasangan di rumah itu. 

Sejumlah warga pun melaporkan kepada aparat desa dan ketua pemuda. Mereka pun sepakat menggerebek. 


Sepi, Orangtua Anak tak di Rumah

Kepala Dusun Turonia, Jonar Tamba mengatakan, saat menggedor pintu rumah, dibuka langsung anak pemilik rumah (perempuan). Dia pun menanyakan keberadaan orang tuanya. 

Ternyata orang tua si anak tidak di rumah sejak Sabtu (19/9/2020). 

“Saat pintu dibuka, saya melihat satu orang anak perempuan berada di ruangan, sementara pintu kamar anak pemilik rumah ini terbuka, karena curiga, saya tanya masih ada lagi temannya, anak ini langsung menggedor kamar satu lagi, lalu kami temukan dua pasang di dalam kamar,” ungkap Jonar Tamba, Rabu (23/9/2020).

Jonar Tamba menuturkan, dia sempat curiga masih ada yang lain dan kemudian ditanyakan lagi kepada anak pemilik rumah. 

Awalnya mengaku tidak ada, tetapi tiba-tiba terdengar percikan air di dalam kamar mandi. 


Pergoki Laki-laki di Kamar Mandi

Dia langsung membuka pintu dan mendapati ada laki-laki di dalam kamar mandi, dengan dalih lagi mencuci pakaian. 

“Kami temukan dia menggunakan handuk, lalu kami tanyakan untuk mengakui apa yang diperbuat. Saat pengerebekan itu, terdapat tujuh orang di dalam rumah itu. Dengan rincian, enam orang pelajar dan 1 orang eks pelajar. Tiga pasang berpacaran dan satu orang tanpa pasangan. Ketiga pasang itu terdiri dari pelajar SMP, SMA dan ex pelajar,” ujar Jonar Tamba. 

Terkait penggerebekan itu, Jonar Tamba menyesali hal itu terjadi terhadap generasi penerus bangsa di Mentawai. 

Apalagi setelah mendengar pernyataan dari masing-masing pelajar itu. 

“Saat diinterogasi hingga pukul 03.30 wib pagi, jawabannya berbelit-belit, tetapi kami sudah punya cara untuk menemukan kesimpulan, hasilnya di mana sangat mengecewakan. Selanjutnya, saya bersama ketua pemuda langsung menjemput salah satu orang tua dari anak itu," katanya. 

"Kami meminta anak-anak itu meminta maaf terhadap orang tua mereka dan membuat surat pernyataan bermaterai, tidak bakal mengulanginya lagi,” imbuh Jonar Tamba.


Pesan Tamba untuk Orangtua

Dia menuturkan, modus mereka mengaku kepada orang tua belajar kelompok menyelesaikan tugas sekolah, tentu orang tua memberi izin. Untuk itu, terhadap orang tua, agar lebih berhati-hati, teliti dan tetap memantau alasan anak-anak. Apalagi dengan kondisi dan situasi pandemi Covid-19 ini. 

“Dengan kejadian itu, saya berkeinginan untuk berkoordinasi dengan seluruh aparatur Desa Tuapejat untuk membentuk Pelindung Masyarakat (Linmas) di masa pandemi Covid-19 ini, terlebih saat ini sekolah melakukan pelajaran daring,” pungkasnya. 


Jadi Tanggungjawab Bersama

Sementara itu, Adrian, Ketua Pemuda Desa Tuapejat menambahkan kejadian ini merupakan tanggungjawab bersama dalam menjaga generasi penerus bangsa agar lebih baik ke depan. 

“Kami ini bukan memojokan mereka, tetapi tujuan kami adalah agar menjadi pelajaran bagi pelajar lain supaya tidak berbuat seperti ini dan ada efek jera buat mereka, bahwa ini perbuatan yang sudah tidak sepantasnya diperbuat anak-anak pelajar ini. Alasan belajar online menjadi kesempatan termudah bagi mereka mengelabui orang tua,” ungkapnya. 

Duh, sahabat KAIROS, kelakuan pelajar-pelajar ini jangan ditiru ya. Untuk para orang tua, pesan moralnya, agar lebih maksimal mengawasi pergerakan anak agar tak terjerumus dalam lembah hitam. Semoga!

reporter | adm

sumber | riausky/posmetropadang

Share:
Komentar

Berita Terkini