Membaca di Tempat Gelap, Merusak Mata? Nih Penjelasannya

Editor: kairos author photo

Membaca saat kurang pencahayaan mempengaruhi kesehatan mata. foto | pixabay

KAIROS - AKTIVITAS membaca di tempat gelap (redup atau kurang pencahayaan) biasa dilakoni anak-anak di malam hari ketika mau tidur, baik membaca buku cerita anak-anak, komik, atau buku cerita lainnya. Selama ini, masyarakat mempercayai membaca di tempat dengan penerangan yang redup dapat merusak mata. 

Terancam menderita miopi. foto | pixabay

Berpeluang Menderita Miopi 

Merusak mata yang dimaksud di sini dapat menyebabkan menderita miopi atau rabun jauh. 

Orang yang sering melihat dalam jarak dekat, seperti orang yang bekerja di depan komputer atau penjahit, memiliki peluang yang besar untuk menderita miopi.

Namun, membaca di tempat yang redup tidak memberikan peluang besar untuk menderita miopi.2 Seorang dokter mata Vision Performance Institute di Oregon’s Pacific University, Dr. Jim Sheedy, menyatakan tidak ada bukti yang cukup yang membuktikan jika membaca di tempat yang pencahayaannya redup akan mengarah ke miopi atau rabun jauh.

Menurut Dr. Jim Sheedy, penentu utama dari miopia adalah genetika.

Seorang dokter mata di Cleveland Clinic Cole Eye Institute, Richard Gans, MD, FACS, mengatakan pencahayaan yang redup membuat mata susah untuk fokus yang akan menyebabkan kelelahan mata dalam waktu jangka pendek. 

“Tapi tidak ada bukti ilmiah yang menyebutkan bahwa membaca di tempat gelap dapat memberikan efek terhadap mata dalam waktu jangka panjang.” 

foto | pantau

Menyebabkan Mata Kering

Kerja visual seperti membaca di tempat dengan pencahayaan yang redup dapat menyebabkan mata kering dalam waktu jangka pendek. Mata kering dapat terjadi karena berkurangnya frekuensi mengedipkan mata. Namun, rasa tidak nyaman yang dialami tidak merusak struktur atau fungsi dari mata.

Membaca di tempat redup tidak merusak mata, tetapi menimbulkan ketegangan mata.

Karena ketika memasuki ruangan yang gelap, mata akan menyesuaikan dengan berbagai cara.

Pertama, sel batang dan sel kerucut di bagian retina akan mulai memproduksi lebih banyak zat kimia yang sensitif terhadap cahaya.

Zat kimia dapat mendeteksi cahaya, lalu mengubahnya kedalam sinyal listrik dan mengirimkan sinyal nya ke otak.

Kedua, otot pada iris menjadi rileks yang menyebabkan pupil terbuka besar. Hal ini memungkinkan mata untuk menerima cahaya sebanyak mungkin. 

Lalu, saraf di retina akan beradaptasi sehingga mata dapat bekerja di tempat yang gelap. Jika objek terlihat gelap, sel batang dan sel kerucut akan meningkatkan kemampuannya untuk mengatur cahaya. Hal ini, yang membuat mata menjadi tegang dan biasanya orang akan merasa sakit kepala dan pusing ringan.

foto | steemi

Akibat Kurang Pencahayaan

Sakit kepala dan pusing ringan yang dirasakan oleh pembaca di tempat dengan pencahayaan yang redup bukan disebabkan oleh pencahayaan yang kurang. 

Namun, hal itu disebabkan ketegangan pada mata yang sedang bekerja keras untuk fokus. Ketika mata bekerja keras dalam waktu yang lama maka mata akan kelelahan, seperti otot pada umumnya yang akan terasa lelah apabila sering digunakan. Ketegangan mata dapat menyebabkan mata menjadi gatal, sakit kepala, sakit leher, penglihatan menjadi buram.

Namun, dari gejala-gejala itu tidak ada yang merusak mata, karena gejala itu akan hilang dengan sendirinya.

Banyak dokter mengatakan ketidaknyamanan yang dirasakan tidak berbahaya, tetapi beberapa dokter mengatakan anak kecil yang terlalu sering mengalami ketegangan mata memiliki peluang yang besar untuk menderita hipermetropi atau rabun dekat.

Walaupun membaca di tempat redup tidak dapat merusak mata dalam waktu jangka panjang, tetapi kita tetap harus menghindari hal-hal yang dapat membahayakan mata

Sebaiknya ketika membaca cahaya menyinari secara langsung teks pada buku, untuk menghindari mata menjadi lelah.

Semoga bermanfaat.

sumber | khansa putrirana/kompasiana

Share:
Komentar

Berita Terkini