Menjemur Bayi, Ini Hal-hal yang Wajib Diperhatikan

Editor: kairos author photo
Beberapa hal wajib diperhatikan ketika Anda sedang menjemur bayi. foto | hellosehat

KAIROS - KEBIASAAN menjemur bayi baru lahir di bawah sinar matahari pagi sejak lama hingga sekarang sepertinya sudah jadi tradisi. Tapi hal ini tidak hanya sekadar kebiasaan, tetapi memiliki manfaat pada perkembangan tulang dan pertumbuhan si kecil. 

Namun perlu diketahui pula, menjemur bayi tidak bisa sembarangan. Ada beberapa cara yang perlu diperhatikan. 


foto | kumparan

Cara Tepat dan Manfaat Menjemur Bayi 


Menjemur Bayi

Ibu biasanya menjemur bayinya yang baru lahir setiap pagi di depan rumah agar terkena sinar matahari langsung. Perlukah menjemur bayi baru lahir?

Mengutip dari laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sinar matahari penting untuk meningkatkan vitamin D pada kulit. Bayi baru lahir perlu terpapar radiasi sinar ultraviolet B (UVB) dalam tingkat yang rendah, untuk dapat memproduksi vitamin D. 

Namun kini pilihan cara untuk terapi yang paling utama pada bayi kuning adalah fototerapi, bukan paparan sinar matahari (menjemur).

Sebagian besar bayi lahir dengan kadar vitamin D rendah di dalam tubuh, oleh karena itu bayi mengandalkan vitamin D yang berasal dari ASI, sinar matahari dan suplementasi. 

Vitamin D diperlukan tubuh untuk membantu menyerap kalsium dan fosfor dari makanan. Kedua mineral ini penting untuk pertumbuhan tulang dan gigi

Dalam sejarah yang ditulis Journal of the American Academy of Dermatology (JAAD), di pertengahan abad ke-19 ditemukan bahwa sinar matahari memiliki efek terapeutik untuk penyakit rickets (kelainan tulang karena vitamin D, kalsium, dan fosfat). 

Lalu pada 1958, sinar matahari dipakai sebagai terapi pada bayi kuning. Menjemur bayi selama 10 menit di dalam ruangan dengan sinar matahari dari jendela, bisa membantu terapi pada ikterus neonatorum (bayi kuning) tingkat ringan.

Namun pada 1940 kasus kanker kulit meningkat dan menjadi epidemi di tahun 1970, peneliti sadar bahwa sinar matahari memiliki dampak negatif. 

Maka, perlindungan kulit, terutama bayi, terhadap sinar matahari sangat penting untuk mengurangi risiko terkena kanker kulit.


Cara Menjemur Bayi yang Pas

Menjemur bayi memiliki manfaat untuk kesehatan tulang, tapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Berikut cara menjemur bayi yang tepat, mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI):


Durasi Menjemur Bayi

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan untuk menjemur bayi di bawah sinar matahari dalam waktu singkat, sekitar 15-20 menit.

Selain itu waktu menjemur bayi sebaiknya di bawah jam 10 pagi dan di atas jam 4 sore. Alasannya, jam 10 pagi sampai 4 sore waktu dengan jumlah radiasi sinar UVB paling tinggi. Hal ini bisa merusak kulit bayi.


Tak Perlu Telanjang

Beberapa orang merasa perlu melepas pakaian bayi ketika akan menjemur, tapi cara itu tidak perlu dilakukan. IDAI menganjurkan orangtua untuk memakaikan baju, topi, dan tabir surya lama menjemur bayi di bawah matahari langsung. 

Sinar matahari sudah cukup kuat untuk memberikan tambahan vitamin D pada tubuh si kecil, maka tidak perlu melepas pakaiannya. 

Melepas pakaian hingga telanjang justru meningkatkan risiko penyakit lain, seperti pilek, sampai kanker kulit kulit dan melanoma. 


Bayi 0-6 Bulan tak Perlu Tabir Surya

American Academy of Pediatrics (AAP) menganjurkan, anak yang berusia di bawah 6 bulan sebaiknya tidak menggunakan tabir surya.

Hal ini disebabkan oleh kulit bayi masih sensitif dan mudah iritasi jika dipakaikan tabir surya. Oleh karena itu lebih baik menghindarkan bayi yang baru lahir dari paparan matahari langsung.

Jika si kecil sudah berusia lebih dari 6 bulan dan ingin memakaikan tabir surya sebelum bepergian ke luar, sebaiknya pilih tabir surya dengan minimal SPF 15 dan oleskan ke bayi 15-20 menit sebelum ke luar. Ini salah satu cara menjemur bayi yang perlu diperhatikan.


Ini Bagian Tubuh yang Harus Dihindari

Ketika sedang menjemur bayi, hindari untuk memakai cara yang kurang tepat. Sebagai contoh, membiarkan sinar matahari langsung mengenai kepala, wajah, dan mata bayi. Sinar matahari dapat mempengaruhi retina mata pada bayi.

Terpapar sinar matahari terlalu lama dapat membuat kulit bayi terbakar. Kulit bayi yang terbakar dapat menyebabkan nyeri, demam, dan dehidrasi pada bayi. 

Selain itu, juga dapat meningkatkan risiko melanoma (jenis yang paling mematikan dari kanker kulit) serta kerutan di kemudian hari.

Demikian sahabat KAIROS, semoga artikel ini membantu.

reporter | adm2

sumber | hellosehat

Share:
Komentar

Berita Terkini