Janda Enggan Dimonopoli Tewas di Tangan Kekasih

Editor: kairos author photo

 

ilustrasi rekonstruksi pembunuhan seorang wanita. foto | cnnindonesia

KAIROS - Tewas di tangan kekasih, begitulah nasib Wahyuni (40), janda lumayan cantik, tak mau dimonopoli oleh kekasihnya. Awalnya dia nekat pacaran. Darmadi (37) pun marah, Wahyuni dibunuh dan dibuang dekat pucak Merapi. Kisah pembunuhan itu terjadi tahun 2013, tapi Darmadi baru tertangkap bulan November lalu.

Namanya orang sedang dilamun asmara, kekasih itu akan dimonopoli, tak boleh bergaul bebas dengan lelaki lain, takut direbut. Begitulah cinta. Jaman Orde Baru cengkeh bisa dimonopoli anak penguasa. Sekarang, janda cantik pun hendak dimonopoli, agar selalu menjadi miliknya sendiri. 

Jika ada pihak lain hendak merebut, bisa nyawa taruhannya dan itu sering terjadi.

Kejadian ini bermula di tahun 2012, janda muda Wahyuni baru pulang dari luar negri setelah beberapa tahun menjadi TKI. 

Akibat pergaulan bebas di negeri orang, janda dari Dlingo Bantul (DIY) ini dalam kondisi hamil tanpa suami saat pulang ke Indonesia. Siapa yang 'nyetrom'? Tak jelas.

Beruntung muncul cowok yang bisa memahami kondisi Wahyuni. 

Meski dalam kondisi hamil, dia siap menerima apa adanya sehingga dipacari juga. 

Dianggap “generasi penerus” nggak apa-apa, karena Darmadi punya niat, setelah bayi lahir mantan TKI ini hendak dijadikan isteri. 

Soal usia lebih tua darinya, bagi Darmadi tidak masalah. Bukankah berondong itu rasanya gurih dan klenis?

Celakanya, ketika janin dalam perut Wahyuni sudah lahir jadi bocah, eh…..si janda itu malah pacaran (selingkuh) lagi dengan lelaki lain. 

Darmadi pun mempertanyakan, apa maksudnya mengkhianati cintanya

Jasa dan pengorbanan lelaki ini seolah tak dihargai sama sekali bahkan dia punya 1001 alasan. 

“Saya kan bukan istrimu, jadi bebas saja saya pacaran dengan lelaki yang saya sukai,” kata Wahyuni di luar logika dan nalar.

Karena cinta, lagi-lagi lelaki asal Kediri itu mencoba memaafkan. 

Bahkan kemudian Wahyuni diajak jalan-jalan pakai motor ke puncak Merapi, tepatnya ke Kinahrejo petilasan Mbah Marijan yang rosa-rosa itu. 

Katanya ingin menikmati matahari pagi dari puncak gunung.

Nah, di puncak Merapi ini kembali Darmadi mempertanyakan sikap Wahyuni, karena dia serius hendak menikahi. 

Tapi ternyata mantan TKI itu bak kacang lupa kulitnya. 

Dia tetap tak mau dimonopoli kayak cengkeh. 

“Kalau memang jodoh, biar ditinggal pacaran dengan lelaki lain tetap saja jadi milikmu,” ketus Wahyuni.

Dibiarkan pacaran dengan lelaki lain? 

Duh, maka kali ini Darmadi benar-benar marah. 

Kok bisa-bisanya menyia-nyiakan perjuangan orang lain, pikirnya. 

Saat itu pun, kepala Wahyuni dibenturkan ke batu besar tempatnya bersender. 

Begitu kelar membenturkannya, langsung pingsan. Tapi Darmadi tak peduli lagi. Kekasihnya itu terus dibentur-benturkan sampai kehabisan nafas. Kemudian mayatnya diseret ke lubang nganggur dengan diseret dari bagian rambutnya.

Setelah peristiwa itu, polisi menemukan jasad Wahyuni, tapi siapa pelakunya belum terdeteksi. 

Tujuh tahun kemudian, tepatnya November lalu terlacaklah siapa pembunuhnya, ternyata Darmadi warga Kediri (Jatim). 

Polisi membekuknya dan diseret ke Polres Sleman. 

Dalam pemeriksaan Darmadi mengakui, dia emosi karena dikhianati cintanya, tak dihargai perjuangannya. 

Beberapa hari lalu digelar rekonstruksi pembunuhan sadis itu.

sumber | poskota

Share:
Komentar

Berita Terkini