Kisah Pria yang Langgar Aturan PPKM, Pilih Dipenjara daripada Bayar Denda

Editor: kairos author photo

 

foto | radartasikmalaya

KAIROS - BAGI Asep Lutfi Suparman, denda Rp 5 juta tidak akan bisa tertutupi keuntungan tiga hari berjualan di kedai kopinya. Karena itulah, dia memilih dibui

Lutfi Suparman sempat kaget memang. ”Oh, di lapas, ya. Saya pikir tadi dipenjara di mapolsek atau mapolres,” katanya dengan wajah agak pucat.

Pemuda 23 tahun ini berada di depan Lapas Kelas II-B Kota Tasikmalaya. Mengenakan sweter polos berwarna abu-abu dan kaus hitam, sebuah tas selempang berada di pundaknya. Ayahnya, Agus Suparman, ikut mendampingi.

Pemilik Kedai Kopi Look Up yang berlokasi di Kelurahan Tuguraja, Kota Tasikmalaya, itu sebenarnya tahu bahwa kemarin dirinya harus menjalani eksekusi atas vonis dalam kasus pelanggaran PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat). 

Dalam sidang virtual Selasa (13/7/2021), hakim Pengadilan Negeri Kota Tasikmalaya menjatuhkan hukuman denda Rp 5 juta atau 3 hari kurungan badan. Yang dia tidak tahu, akibat keterbatasan pengetahuan hukum, tiga hari itu ternyata harus dihabiskan di lapas sebagaimana dalam semua kasus yang sudah berkekuatan hukum. Dikumpulkan dengan narapidana berbagai kasus lain.

‘’Ya, gimana lagi, saya sudah siapkan mental untuk ini,” katanya kepada wartawan sebelum melangkah masuk ke lapas. Asep divonis bersalah karena kedai kopinya buka sampai pukul 21.15. Ketika dirazia pada Rabu pekan lalu (7/7/2021), ada sejumlah pembeli yang nongkrong di tempat usahanya yang terletak di lantai 3 rumah keluarganya. Padahal, aturan PPKM darurat mengharuskan semua pelaku usaha menutup tempat usaha mereka pada pukul 20.00. Juga, tidak boleh melayani pembelian di tempat.

Namun, tidak dengan Asep. Bagi dia, uang Rp 5 juta bukan jumlah kecil. Meski, sebenarnya keluarganya juga bukan dari kalangan bawah secara ekonomi. Namun, dia tidak mau berpangku tangan kepada orang tuanya.

‘’Habis modal kalau saya harus bayar denda,” ujarnya.

Jika dihitung, lanjut Asep, laba dari penjualan kopi di kafenya selama tiga hari tidak akan bisa menutupi denda yang harus dibayar. Terlebih, pada masa PPKM darurat, pemesanan harus melalui layanan takeaway.

”Saya terima putusan yang ditetapkan hakim. Namun, untuk bayar denda Rp 5 juta, rasanya berat. Makanya, saya pilih tiga hari kurungan saja,” tuturnya menanggapi vonis hakim dalam sidang.

Agus, sang ayah, menjelaskan putra kedua di antara empat bersaudara itu baru enam bulan lalu membuka usaha di bidang kopi. Dan, dia merasa bangga dengan keputusan yang ditunjukkan putranya tersebut.

‘’Dia bersikukuh dengan keputusannya. Padahal, bagi saya, insya Allah mudah mengumpulkan uang Rp 5 juta untuk bayar denda,” kata Agus. 

Wartawan sempat mendatangi lokasi kedai milik Asep. Tempat itu hampir tidak terlihat dari jalan raya. Hanya ada petunjuk arah di depan gang. Untuk menuju ke kedai, pengunjung harus masuk gang sekitar 30 meter dari bibir jalan. Mendongak ke atas, baru tampak kedai itu: di lantai 3 rumah keluarganya dengan konsep separo terbuka tanpa atap. Mungkin karena itu namanya Look Up.

Setelah divonis bersalah, Asep menceritakan, pada Rabu malam lalu itu, saat petugas datang merazia, sebenarnya yang berada di Kedai Kopi Look Up hanya teman-teman dekatnya.

Tidak ada pembeli umum. Hari-hari sebelumnya, dia juga biasanya patuh tutup pada pukul 20.00.

”Tapi, ya mau gimana lagi keputusannya begitu. Toh, tetap salah di mata hukum,” keluhnya ketika itu dengan bernada datar.

Jaksa Ahmad Sidiq yang menangani perkara tindak pidana ringan itu menyatakan, pihaknya tidak langsung melakukan eksekusi karena ingin memberikan kesempatan kepada Asep untuk mempertimbangkan.

Menurut dia, itulah langkah humanis terhadap penerima sanksi PPKM darurat. Sebab, bagaimanapun, kurungan badan bukan hal sepele meski hanya beberapa hari.

‘’Khawatirnya ada salah paham. Ketika divonis, anggapannya harus langsung dibayar. Padahal, bisa minta waktu (untuk membayar denda, Red),” terangnya.

Agus memastikan, Asep memang bersikukuh memilih dipenjara. Meski pilu melihat sang anak masuk bui, dia akhirnya mendukung sikap anaknya tersebut.

”Bagaimanapun, saya bangga. Ini bukti dia bertanggung jawab dan melaksanakan putusan pengadilan,” tuturnya terharu. Keharuan Agus itu terbaca di rautnya ketika sang anak dibawa petugas masuk. 

Kemudian, diperiksa administrasinya sesuai dengan syarat dan ketentuan narapidana pada umumnya. Tidak lama berselang, Asep yang sudah menjalani swab test dan hasilnya negatif keluar ruangan dan memasuki area penahanan dengan rambut plontos. Bajunya sudah berganti baju tahanan seperti narapidana di lapas itu.

Dia digiring petugas ke lapas sel tahanan Situ Cilambu Blok 12 yang berlokasi di bagian paling belakang area lapas. Di sel tersebut, terdapat puluhan narapidana lainnya dengan kasus kriminal umum yang menjalani masa tahanan belasan sampai puluhan tahun lamanya.

”Tidak ada ruang khusus. Selnya disatukan dengan narapidana lain. Apalagi, ruang sel tahanan di kami kan penuh,” jelas Kalapas Kelas II-B Tasikmalaya Davi Bartian.

 Founder Ngopi di Tasikmalaya Roni Mulyana menyesalkan apa yang harus dialami Asep. Dia berencana melakukan gerakan solidaritas dengan mempertahankan pengoperasian Kafe Look Up.

”Ini bentuk empati dari kami, bukan berarti membela pelanggar PPKM darurat,” ujarnya. Roni dan rekan-rekannya sudah menyiapkan bahan mentah hasil swadaya di komunitasnya. Look Up akan tetap buka dan melayani para pembeli secara takeaway.

”Jadi, meski Asep menjalani kurungan badan, kafenya masih tetap beroperasi dan mendatangkan penghasilan untuk pemiliknya,” jelasnya. Itu tentu kabar baik bagi Asep. Namun, yang terpenting baginya sekarang harus bertahan di tempat barunya selama tiga hari. Untuk sebuah pelanggaran buka kedai 1 jam 15 menit lebih lama dari yang diizinkan.

sumber\ foto | radartasikmalaya

reporter | mey

Share:
Komentar

Berita Terkini