Perlu Diketahui Seputar Air Ketuban selama Kehamilan

Editor: kairos author photo
Kehamilan seorang ibu. foto ilustrasi | halodoc

KAIROS - AIR ketuban, cairan bening berwarna kekuningan yang disimpan dalam kantung ketuban. Cairan ini terbentuk dalam kantung ketuban dalam 12 hari pertama setelah konsepsi. Air ketuban mengelilingi bayi yang tumbuh di rahim dan jumlahnya akan semakin banyak seiring bertambahnya usia kehamilan. 

Cairan ketuban memiliki banyak fungsi penting untuk perkembangan janin yang sehat. Namun, jika jumlah cairan ketuban di dalam rahim terlalu sedikit atau terlalu besar, komplikasi dapat terjadi. Berikut informasi seputar air ketuban yang perlu ibu ketahui. 

Ada beberapa fungsi air ketuban selama kehamilan yang perlu ibu pahami, yaitu: 

> Melindungi janin. Cairan ketuban melindungi bayi dari tekanan dan goncangan dari luar.

> Kontrol suhu. Air ketuban menjaga bayi agar tetap hangat dan mempertahankan suhu normal.

> Mencegah infeksi. Cairan ketuban mengandung antibodi, sehingga dapat melindungi bayi dari infeksi.

> Membantu perkembangan paru-paru dan sistem pencernaan. Dengan bernapas dan menelan cairan ketuban, bayi berlatih menggunakan otot-otot sistem ini saat mereka tumbuh.

> Membantu perkembangan otot dan tulang. Di dalam kantung ketuban, bayi bebas bergerak, sehingga memberi otot dan tulang kesempatan untuk berkembang dengan baik.

> Sebagai pelumas. Cairan ketuban mencegah bagian-bagian tubuh seperti jari tangan dan kaki tumbuh bersama.

> Melindungi tali pusat. Cairan ketuban juga mencegah tali pusat tertekan. Tali pusat ini mengangkut makanan dan oksigen dari plasenta ke janin yang sedang tumbuh.

 

Berapa Jumlah Air Ketuban yang Normal?

Jumlah cairan ketuban akan terus meningkat hingga sekitar usia 36 minggu kehamilan. Pada saat itu, jumlahnya bisa mencapai sekitar 1 liter. Setelah melewati minggu ke 36, jumlah cairan ketuban biasanya mulai berkurang.

Ada beberapa kondisi yang membuat ibu hamil memiliki terlalu sedikit atau terlalu banyak cairan ketuban. Cairan ketuban yang terlalu sedikit disebut oligohidramnion, sedangkan jika terlalu banyak disebut polihidramnion. Keduanya berisiko menimbulkan masalah pada ibu dan bayi, sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus dari dokter. 


Seperti Apa Warna Air Ketuban yang Normal?

Air ketuban yang normal harus jernih atau berwarna kekuningan. Air ketuban yang terlihat hijau atau coklat menandakan bahwa bayi telah buang air besar pertama kalinya (mekonium) saat dalam kandungan. Normalnya, bayi mengalami buang air besar pertama setelah lahir.

Mekonium berisiko dihirup oleh paru-paru bayi melalui cairan ketuban. Kondisi dapat menyebabkan masalah pernapasan serius, yang disebut sindrom aspirasi mekonium, terutama jika cairannya kental.

Beberapa bayi dengan mekonium dalam cairan ketuban mungkin memerlukan perawatan segera setelah lahir untuk mencegah masalah pernapasan. Bayi yang tampak sehat saat lahir mungkin tidak memerlukan perawatan, bahkan jika cairan ketuban mengandung mekonium.


Air Ketuban Mengandung Nutrisi Penting

Di dalam rahim, janin berada di kantong ketuban yang terdiri dari dua selaput, yaitu amnion dan chorion. Kantong tersebut juga berisi air ketuban yang mengandung komponen vital seperti nutrisi, hormon, dan antibodi. 

Perlu diketahui, awalnya air ketuban terbentuk dari air yang diproduksi oleh ibu. Namun secara bertahap, setelah usia kandungan sekitar 20 minggu, air ketuban akan didominasi oleh air seni janin. 


Jumlah Air Ketuban Bisa Berkurang atau Tiba-tiba Pecah

Saat usia kandungan 20 minggu, volume air ketuban adalah sekitar 400 mililiter. Pada usia kehamilan 34-36 minggu, volume air ketuban mencapai puncaknya, yaitu sekitar 800 mililiter. Lalu, hingga hari persalinan atau sekitar minggu ke 40, air ketuban akan berkurang hingga hanya sekitar 600 mililiter.

Sementara itu, sebelum atau selama persalinan kantung ketuban bisa pecah dan cairan mengalir keluar melalui vagina. Ibu yang mengalami air ketuban pecah perlu menjalani persalinan sesegera mungkin. Ini karena, tanpa cairan ketuban, bayi tidak lagi terlindungi dan berisiko terinfeksi.

Pecahnya ketuban sebenarnya merupakan hal alami yang terjadi ketika akan melahirkan. Namun, ketuban bisa pecah lebih awal dari seharusnya, dan berpotensi serius.

Kondisi ketika air ketuban keluar sebelum minggu ke 37 kehamilan disebut dengan ketuban pecah dini atau premature rupture of membranes (PROM). Semakin awal kondisi ini terjadi, maka semakin serius.

Jika hal ini terjadi, segera cari pertolongan medis. Beberapa kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi karena ketuban pecah dini adalah infeksi pada selaput yang menyelimuti janin, tali pusat tertekan, dan bayi lahir prematur.

Apabila ibu mengalami masalah dengan air ketuban selama kehamilan, sebaiknya rutin kunjungi dokter agar bisa selalu dipantau. 

sumber\foto | halodoc

reporter | yey


Share:
Komentar

Berita Terkini