Ibu Hamil Penderita Usus Buntu, Kerjakan Hal Ini

Editor: kairos author photo

 

ilustrasi wanita hamil. foto | pixabay

KAIROS - PENYAKIT usus buntu dapat menimbulkan nyeri perut hebat. Kondisi ini terjadi ketika bakteri berkembang biak dengan cepat sehingga membuat usus buntu meradang, bengkak, sampai bernanah. Duh!

Jika dialami ibu hamil, radang usus buntu dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur sampai kematian ibu maupun bayi. Itu sebabnya, bumil yang mengidap penyakit ini harus segera mendapat penanganan. 

Gejala radang usus buntu seringkali tidak spesifik dan mirip dengan gejala kehamilan normal seperti sakit perut, mual dan muntah. Hal inilah yang membuat penyakit usus buntu pada bumil sulit didiagnosis. 

BACA PULA | Ibu Hamil, Jangan Sembarangan Pilih Susu Ya

Padahal, penanganan cepat amat dibutuhkan agar infeksi tidak menjadi serius, sehingga komplikasi yang merugikan dapat dicegah.

Namun, penanganan infeksi usus buntu pada ibu hamil tidak boleh sembarangan dan perlu mempertimbangkan banyak aspek. Untuk itu, yuk ketahui penanganannya lebih lanjut di sini.

Ibu Hamil Alami Radang Usus Buntu, Harus Apa?

Radang usus buntu seringkali ditangani dengan prosedur pembedahan. Pada ibu hamil, pembedahan mungkin sangat berisiko untuk janin. 

Antibiotik merupakan pilihan pengobatan alternatif untuk radang usus buntu yang dialami ibu hamil. 

Studi yang dipublikasikan dalam NCBI, antibiotik diberikan melalui intravena selama 3 hari diikuti oleh 4 hari dengan pengobatan oral. Jadi, total durasi pengobatan antibiotik adalah 7 hari.

Dalam studi itu, pengidap mampu membaik secara klinis setelah 3 hari pengamatan dan pengobatan antibiotik intravena. 

BACA SELENGKAPNYA | Wanita Hamil Muda Wajib Tahu 5 Pantangan Ini Agar Janin Selamat

Pengobatan pun tidak memengaruhi kehamilan dan pasien dapat melahirkan seorang anak yang sehat melalui persalinan pervaginam setelah usia kehamilan 40 minggu.

Nah, jika pembedahan diperlukan, maka laparoskopi merupakan pilihan yang paling direkomendasikan. Laparoskopi dapat dilakukan pada kehamilan trimester pertama dan kedua. 

Metode ini dapat meminimalkan risiko karena dokter hanya perlu membuat sayatan-sayatan kecil. Setelah operasi, ibu hamil harus pantau secara ketat untuk memastikan kondisi janin.

Ibu hamil yang menjalani operasi usus buntu (baik laparoskopi atau terbuka) berisiko mengalami kontraksi prematur. 

Tapi cuma 10 persen ibu hamil yang melahirkan bayi lebih awal. Risiko meningkat saat kehamilan berlanjut, yakni 8 persen sebelum usia kehamilan 24 minggu, 13 persen antara 24-28 minggu, dan 35 persen saat usia kehamilan telah mencapai 29-36 minggu.

Gejala dan Diagnosis Usus Buntu pada Bumil

Gejala khas radang usus buntu adalah nyeri hebat di perut kanan bawah. Rasa nyeri ini makin lama bisa semakin terasa nyeri sampai menjalar ke bagian perut atas. Pada ibu hamil, nyeri perut seringkali disalah artikan dengan gejala persalinan. Itu sebabnya, sebaiknya segera periksakan ke dokter untuk menjalani USG guna memastikan penyebab nyeri perut.

SIMAK JUGA | Nyeri Saat Berhubungan Intim, Awas Tanda Kista

Penyakit usus buntu mungkin akan lebih sulit didiagnosis apabila kehamilan sudah memasuki trimester ketiga. Pasalnya, nyeri dapat disalah artikan sebagai tanda-tanda persalinan. Dokter mungkin menyarankan MRI atau CT Scan untuk memastikan diagnosis. 

Hingga kini, belum ada studi yang mengemukakan pencegahan penyakit usus buntu, karena penyebab peradangan dan infeksinya yang masih belum diketahui.

sumber\foto | halodoc\verywell family\ 

reporter | yey

Share:
Komentar

Berita Terkini