Hotman Silalahi Harus ''Angkat Kaki'' dari Huta Lumban Dolok Tolping

Editor: kairos author photo

Salah satu rumah Gorga Batak berusia ratusan tahun yang masih original (asli). foto | dokumen KAIROS

KAIROS - HOTMAN Silalahi diminta 'angkat kaki' ke luar dari Huta Lumban Dolok-Tolping. Karena Huta (desa) Lumban Dolok Tolping yang berada di Desa Martoba, Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir itu, bukan miliknya. Selain itu, hakim Pengadilan Negeri Balige harus jeli melihat fakta-fakta lapangan. 

Hal itu dikatakan Jahamsah Silalahi, salah seorang penggugat yang menggugat keberadaan Hotman Silalahi ke Pengadilan Negeri Balige dalam perkara perdata No 82/Pdt.G/2021/PN Blg. Dia mengatakan hal itu kepada pers di Medan Selasa (26/10/2021).

Rumah Gorga Batak milik keluarga penggugat. foto | dokumen KAIROS


Sekadar diketahui, Pengadilan Negeri Balige, pada Kamis 28 Oktober 2021 menggelar sidang lapangan (red, pemeriksaan setempat) di lokasi itu yang dihadiri para pihak (penggugat dan tergugat).

Dalam hal ini Barmen Silalahi, Timora Silalahi, Jahamsah Silalahi, Bustaman Silalahi dan Esta Silalahi (pihak penggugat) melawan Hotman Silalahi (pihak tergugat).

Jahamsah Silalahi mengakui, keberadaan Hotman Silalahi memang sudah terlalu lama berada di kampung (huta Lumban Dolok) Tolping. Padahal sejatinya, Hotman Silalahi bukan pemilik sah, melainkan hanya pendatang di kampung itu.

''Cerita orang-orang tua kita terdahulu, Hotman Silalahi hanya pendatang di Lumban Dolok. Ratusan tahun lalu, menurut kisah leluhur kami, di desa Lumban Barat yang posisinya bersebelahan dengan Lumban Dolok sedang musim Gadam (red, sejenis penyakit kusta). Oleh moyang kami, mengizinkan leluhur mereka yang dari Lumba Barat 'bertransmigrasi' ke Lumban Dolok, hingga akhirnya mereka menetap berdomisili di Lumban Dolok. Tapi bukan berarti Hotman Silalahi pemilik kampung, dia hanya pendatang!'' tegas Jahamsah Silalahi.

Tambak/simin (makam atau kuburan) leluhur milik para penggugat. Makam ini bukan pemakaman umum tapi pemakaman khusus dari keluarga besar para penggugat. foto | dokumen KAIROS 

Pihaknya tidak terima Hotman Silalahi membangun rumah di lokasi itu.

''Apa dasar dia (Hotman Silalahi) membuat rumah di Lumban Dolok? Ini bukan kampungnya. Dia itu menumpang di sini,'' kata Jahamsah bernada heran.

''Kalau dasar Hotman Silalahi mengaku Huta Lumba Dolok miliknya, hanya dengan bukti sopo siatting-atting, itu tidak bisa dijadikan sebagai dasar yang kuat sebagai pemilik, apalagi sopo siatting-atting miliknya itu buatan tahun 2002. Nah, rumah leluhur kami yang ada di kampung ini masih original, rumah ini sudah berusia ratusan tahun. Lagi pula simin (red, makam) leluhur kami juga berada di sini (Huta Lumban Dolok). Simin leluhur si Hotman, bukan di sini. Ini bukti Hotman Silalahi bukan siapa-siapa di kampung ini!'' beber Jahamsah.

Kini meski Hotman Silalahi sedang membangun rumah di Huta Lumban Dolok, sebagai pihak yang taat hukum, para penggugat meminta agar pengadilan menghentikan semua aktivitas pembangunan milik Hotman Silalahi di lokasi itu dan memerintahkan agar Hotman Silalahi ke luar dari Huta Lumban Dolok.

Kasus Pengrusakan ke Polres Samosir



Sebenarnya persoalan lain, yakni masalah pengrusakan tanaman yang diduga dilakoni Hotman Silalahi terhadap tanaman milik keluarga Jahamsah sudah diadukan ke Polres Samosir sesuai STPL/118/VI/2021/SPKT/Polres Samosir-Polda Sumut. 

Sialnya, setahu bagaimana laporan pengaduan itu seolah 'hilang ditelan bumi'.

Untuk menangani perkara ini, para penggugat memberi kuasa kepada tim pengacara Abdi Purba, SH, Indira Muliani, SH dan Ahmad Addully, SH.

reporter | bram


Share:
Komentar

Berita Terkini