Kasus Positif Covid-19 Melonjak, RS di Inggris Mulai Kewalahan

Editor: kairos author photo

 

Saat Inggris resmi mencabut 'LockDown' nasional. foto | jawapos

KAIROS – DI Inggris serangan Covid-19 belum hilang. Di negara kerajaan itu kasus penularannya justru melonjak signifikan. Mereka yang tertular bukan lagi yang tanpa gejala atau sakit ringan. Banyak warga yang harus dirawat di rumah sakit (RS). Hal itu membuat sistem kesehatan di Inggris mulai kewalahan.

Selasa (19/10/2021) angka kematian harian akibat Covid-19 di Inggris mencapai 223 orang. 

Itu angka kematian harian tertinggi sejak Maret silam. 

Kasus penularan harian di negara Ratu Elizabeth II tersebut mencapai lebih dari 43 ribuan kasus. Kantor Statistik Nasional Inggris pekan lalu memperkirakan bahwa 1 dari 60 orang di Inggris membawa virus Covid-19. Itu adalah level tertinggi sejak pandemi terjadi.

Para medis di Inggris (NHS) menekan pemerintah agar kembali memberlakukan pembatasan Covid-19. 

Harapannya, beban RS bisa berkurang. Kini rumah sakit mengalami tekanan yang cukup berat. 

Pemerintah harus bertindak secepatnya sebelum musim dingin tiba pada Desember nanti. Pada musim dingin, pasien non-Covid-19 juga biasanya ikut naik.

Matthew Taylor, Kepala Konfederasi NHS mengungkapkan ketika para pejabat kesehatan melaporkan situasi memburuk, itu berarti antisipasi di beberapa titik tidak bisa terpenuhi. 

Misalnya, antrean di IGD, waktu respons ambulans, dan antrean rawat inap.

’’Mana yang lebih baik, apakah bertindak lebih awal dan mengambil langkah yang tidak menghentikan perekonomian ataukah menunggu hingga semuanya memburuk dan kemungkinan berisiko harus mengambil langkah-langkah yang lebih ekstrem lagi,’’ tegas Taylor, (20/10/2021) seperti dikutip Agence France-Presse.

Sayangnya, keinginan itu bertepuk sebelah tangan. 

Para menteri di kabinet PM Boris Johnson menolak. 

Inggris sudah mencabut lockdown dan berbagai kebijakan pembatasan lainnya pada Juli lalu. Pemerintah beralasan bahwa situasi saat ini masih lebih baik dibandingkan awal tahun. 

Inggris kini juga tengah belajar untuk hidup berdampingan dengan virus SARS-CoV-2. Berdasar data statistik, angka penularan tertinggi menimpa anak usia sekolah.

’’Saya tidak melihat alasan untuk mengubah kebijakan sekarang. Ini adalah virus yang tengah kita pelajari untuk hidup bersama. Peningkatan memang mengkhawatirkan dan kami memantau data setiap hari,’’ tegas Menteri Urusan Bisnis Kwasi Kwarteng seperti dikutip BBC. Menurut dia, kebijakan kampanye vaksinasi pemerintah justru dinilai berhasil. Saat ini Inggris juga menawarkan booster kepada mereka yang dianggap golongan rentan.

Beberapa pakar menilai, angka penularan saat ini disebabkan Inggris melakukan vaksinasi lebih dulu. Lansia dan petugas di garda depan sudah divaksin mulai Desember tahun lalu. 

Artinya, sudah lebih dari enam bulan. Padahal data menunjukkan, perlindungan vaksin terus menurun setelah sekitar setengah tahun. 

sumber\foto | JawaPos\manadopost

reporter | richard

Share:
Komentar

Berita Terkini