Oknum Guru Pesantren Perkosa 12 Santriwati, 8 Melahirkan, 2 Hamil

Editor: kairos author photo

Kekerasan anak dibawah umur. foto ilustrasi | alur

KAIROS - SEBUAH yayasan pesantren di Kota Bandung heboh. Pasalnya seorang oknum guru santri di sana diduga melakoni tindakan pencabulan dan pemerkosaan terhadap 12 perempuan yang adalah anak didiknya sendiri. Duh!

Beruntung pelaku yang diketahui berinisial HW itu kini telah ditangkap dan kasusnya sudah masuk dalam persidangan.

Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Dodi Gazali Emil menjelaskan, berkas perkara kasus pencabulan dan pemerkosaan dengan nama terdakwa HW dilimpahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Bandung 3 November 2021 dengan surat Nomor : B-5069/M.2.10.3/Eku.2/11/2021.

"Yang bersangkutan seorang pengajar," kata Dodi, Rabu (8/12/2021).

Dikatakan, perbuatan HW ini dilakoni sekitar tahun 2016 sampai 2021, adapun korban mencapai belasan perempuan.

"Anak korban berjumlah 12 orang dengan rata-rata usia 16-17 tahun," ungkap Dodi.

Dari belasan korban yang sudah diperkosa itu, beberapa di antaranya sedang mengandung dan sudah melahirkan anak.

"Korbannya 12 anak, yang melahirkan 8, yang tengah hamil 2," ucapnya.

Dijelaskan, penetapan PN Bandung Nomor 989/Pid.Sus/2021/PN.Bdg tanggal 03 Nopember 2021 menentukan sidang pada hari Kamis tanggal 11 November 2021.

"Persidangan dimulai 18 November 2021 dan persidangan dilaksanakan 2 kali seminggu setiap hari Selasa dan Kamis," ucapnya.

Dikatakan, pada minggu ini persidangan masih dalam pemeriksaan saksi-saksi, sudah sebanyak 21 orang saksi yang dimintai keterangan.

Dari hasil persidangan sementara, tindakan asusila HW kepada belasan muridnya ini dilakoni tak cuma di yayasan pesantren saja, tapi juga di beberapa tempat lainnya.

Sebagai pendidik, kata Dodi, terdakwa telah melakoni kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau orang lain.

Dalam dakwaannya, HW melanggar pasal 81 ayat (1), ayat (3) jo pasal 76.D UU R.I Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo pasal 65 ayat (1) KUHP untuk dakwaan primairnya.

Sedang dakwaan subsider, melanggar pasal 81 ayat (2), ayat (3) jo pasal 76.D UU R.I Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

sumber\foto | kompas\alur

reporter | mey

Share:
Komentar

Berita Terkini