Penemu Vaksin AstraZeneca: Pandemi Selanjutnya Lebih Mematikan dari Covid-19

Editor: kairos author photo
Pasien sedang dirawat di rumahsakit. foto ilustrasi | pixabay

KAIROS - PROF Dame Sarah Gilbert, Ilmuwan penemu vaksin Oxford-AstraZeneca mengingatkan kemungkinan bahwa pandemi yang terjadi dimasa depan bisa lebih mematikan dibanding krisis Covid-19 saat ini. 

Menurut dia, perlu disiapkan lebih banyak dana untuk kesiapsiagaan pandemi agar kesiapan yang telah terbangun selama pandemi Covid-19 tidak menjadi sia-sia. 

''Ini bukan terakhir kalinya sebuah virus mengancam hidup dan mata pencarian kita. Sebetulnya, (pandemi) yang terjadi berikutnya bisa lebih buruk. Kemungkinannya bisa lebih menular, lebih mematikan, bahkan dua kemungkinan itu bisa terjadi bersamaan,'' kata Gilbert.

''Kita tidak bisa mengabaikan situasi yang telah kita lalui. Kerugian ekonomi yang sangat besar telah menunjukkan bahwa kita tidak mengalokasikan cukup dana untuk kesiapsiagaan menghadapi pandemi,'' lanjut dia.

''Pengetahuan yang sudah kita dapatkan, tidak boleh hilang begitu saja," lanjutnya. Waspadai varian Omicron Gilbert juga memperingatkan bahwa vaksin Covid-19 yang tersedia saat ini bisa jadi kurang efektif menghadapi varian Omicron,'' imbuhnya. 

Oleh sebab itu, dia meminta seluruh pihak untuk lebih waspada sampai ada lebih banyak informasi terkait varian ini. Mutasi pada protein spike dari varian ini diketahui telah meningkatkan level penularannya. 

"Ada perubahan yang kemungkinan membuat antibodi yang ditimbulkan oleh vaksin atau oleh varian sebelumnya, kurang efektif mencegah infeksi Omicron. Kita harus berhati-hati sampai kita memahami varian ini dan melakukan upaya-upaya untuk memperlambat penyebarannya,'' kata dia.

Namun, Gilbert menggarisbawahi bahwa penurunan efektivitas vaksin dalam mencegah infeksi bukan berarti perlindungan untuk mencegah gejala parah dan kematian juga menurun. 

Dia juga menyerukan agar kemajuan pesat pada distribusi vaksin dan obat-obatan selama pandemi menjadi sebuah standar yang baru. 

Menurut dia, ini menunjukkan bahwa seharusnya tidak ada alasan mengapa vaksin flu sulit dikembangkan untuk mengatasi ancaman influenza sebelum ini. 

Indonesia sejauh ini belum melaporkan penemuan kasus Covid-19 dengan varian Omicron, meski sejumlah negara tetangga seperti Australia, Malaysia, dan Singapura telah menemukan kasus dengan varian ini. 

Sejak Jumat (3/12/2021), Pemerintah Indonesia mewajibkan warga negara Indonesia dan warga negara asing yang tiba untuk menjalani karantina selama 10 hari. 

Aturan karantina terbaru ini lebih lama dibandingkan sebelumnya yang hanya 7 hari. 

Sebelumnya Indonesia juga telah melarang masuk WNA yang memiliki riwayat perjalanan dari 11 negara di wilayah Afrika. 

Sedangkan WNI yang datang dari 11 negara tersebut wajib menjalani karantina selama 14 hari.

sumber\foto | kompas/cnnindonesia/riausky

reporter | yey

Share:
Komentar

Berita Terkini