Jerit Pilu ''Kupu-kupu Malam'' di Kota Kembang-Bandung

Editor: kairos author photo

 

Kupu-kupu. foto ilustrasi | pixabay

kairos - ISTILAH 'kupu-Kupu malam', sebuah kiasan indah yang disematkan kepada mereka yang sering dianggap hina. Kiasan ini pula ditujukan kepada para wanita yang menjajakan tubuhnya demi sesuap nasi. Tujuannya ya untuk menyambung hari esok.

Sebagian orang menganggap mereka hina, sebagian lainnya iba dengan pahitnya jalan hidup yang ditempuh oleh sang 'kupu-kupu'. 

Bahkan, bagi segelintir orang mereka dicari demi memuaskan hasrat gelap dalam dirinya.

Dulu, profesi ini identik dengan wanita menor bediri manja di keramaian berharap pria hidung belang melirik dan tertarik. Meski tak tahu kapan dirinya bisa menjual 'jasa' yang ia tawarkan.

Sekarang zaman sudah canggih, mereka tak perlu lelah berdiri menahan dinginnya udara malam yang menusuk tulang. Seraya menggoda setiap pria yang menelanjangi mereka dengan tatapan penuh nafsu.

Ponsel, satu alat yang membuat profesinya sedikit lebih mudah. Kini, sang Kupu-kupu sibuk menatap layar untuk menawarkan jasa mereka melaui Sosial Media dan pesan singkat.

Tersebutlah Angel (38). Dia berprofesi sebagai kupu kupu malam secara halus. Jasa yang ia tawarkan adalah pijat 'Terapi' yang berujung dengan kenikmatan sang hidung belang.

Dia terlihat cemas seraya menatap layar handphonenya dengan seksama. Berharap ada notifikasi dari mereka yang ingin merasakan lentik jemarinya menari di atas tubuh sang tamu.

Tak lama, nada sering itu muncul di telpon genggamnya. Ya, itu adalah notifikasi dari pasien yang ingin 'mencoba' jasa yang ia tawarkan. Senyum tersungging di bibirnya karena baginya, dering ponsel itu tak hanya peringatan pesan yang masuk. Dering itu bermakna ia bisa menyambung hidup setidaknya untuk esok hari.

Angel menawarkan jasanya melalui pesan singkat dan rekomendasi mulut ke mulut dari pria yang pernah ia layani. Berlokasi tak jauh dari perempatan terlama di Kota Bandung, sudah tak terhitung jumlah tamu yang pernah ia layani.

Faktor ekonomi seolah jadi alasan klasik bagi para wanita memilih profesi ini. Namun ada cerita menyedihkan di balik senyum ramah Angel pada setiap pelanggannya.

Terjatuh, Lalu Suami Meninggal Dunia

Kisahnya berawal ketika delapan tahun silam ia ditinggal pergi oleh suami tercintanya. Suami Angel meninggal saat memasang instalasi pendingin ruangan di Kota Cimahi.

Suami dari wanita asal timur Jawa Barat ini terjatuh dari lantai atas bangunan dan menimpa kabel listrik bertegangan tinggi. Menyebabkan sang suami terbakar akibat sengatan listrik sebelum akhirnya terjatuh ke tanah.

"Pas kejadian teteh posisi lagi di kampung tiba-tiba ada telfon dari temen kerja suami. Bilang kalau suami teteh dibawa ke rumah sakit, jatoh dari lantai atas katanya," Ujar Angel kepada Ayobandung.com secara eksklusif pada Rabu, 14 September 2021.

Setelah itu, Angel bergegas berangkat bersama kedua anaknya yang berusia 5 dan 1 tahun 6 bulan. Pada saat itu, Angel belum mengetahui bahwa suaminya tersengat listrik dan terbaring dalam keadaan koma.

"Sampe di rumah sakit, saya nangis liat kondisi suami saya. Selang (infus) nyambung kemana mana, fisik terbakar dan mengeluarkan darah. Sedih saya kalo inget kejadian itu," jelas Angel sambil terisak.

Tak lama Angel tiba, ia menyapa suaminya dalam kondisi koma dan tak sadarkan diri. Ia menangis sambil meminta maaf kepada suaminya pada saat saat terakhir bersama kedua anaknya.

"Ketika teteh beres pileuleuyan sama suami, keliatan suami saya meski sedang tak sadar meneteskan air mata. Gak lama kemudian kondisinya menurun lalu meninggal. Seolah seperti nunggu teteh dateng," tambahnya.

Keluarga mengikhlaskan kepergian sang suami dan menganggap kecelakaan kerja. Pihak tempat suaminya bekerja memberikan santunan kematian pada keluarga dan sepakat untuk tidak memperpanjang masalah.

Dianggap Beban, Diusir Keluarga

Kini Angel harus berjibaku untuk terus merawat dan membesarkan kedua anaknya. Namun, kesedihan yang ia rasakan belum seberapa. Sebulan kemudian dia diusir keluarga suaminya karena dianggap beban.

Uang duka (kematian) yang diterima diambil oleh keluarga suaminya dengan dalih meminjam untuk keperluan lain. Sampai hari ini, uang itu tak pernah kembali ke tangannya meski sudah ia anggap punah.

Hampir setahun Angel mengalami depresi, keluarga yang seharusnya menjadi perlindungan terakhir justru membuat hidupnya semakin sengsara.

"Sampe sekarang anak anak teteh ga dekat dengan keluarga suami. Cuma teteh dan keluarga saja yang berusaha membesarkan mereka sampe sekarang," tambahnya.

Akhirnya dia bangkit dari keterpurukan, ia mengadu nasib di Kota Kembang demi menghidupi kedua buah hatinya yang ia tinggalkan di kampung halaman.

"2014 saya ke Bandung, selama 2 tahun saya kerja. Pernah jadi kasir, pernah jadi penjaga petshop, pernah di mall juga. Pekerjaan yang halal aja pokoknya," tuturnya.

Lalu suatu hari dia memutuskan berhenti dari pekerjaan di restoran. Hal ini lantaran rekan kerjanya selalu menyabotase pekerjaannya.

Hingga suatu saat, ada teman di rumah kosnya yang menawarkan pekerjaan untuk menjadi terapis di salah satu panti pijat (PP) di Kota Bandung. 

Dia mengiyakan tawaran ini karena kebutuhan anak anaknya harus terus terpenuhi.

"Awalnya di ajakin temen buat kerja seperti ini. Di PP ini sistem kerjanya itu mijet pelanggan full body, sambil di kasih 'bonus' di akhir sesi. Untuk pembagian hasil, 80 persen untuk pengelola dan 20 persennya buat teteh. Meski kurang ya dijalani aja," ujar Angel.

Selama 2 tahun dari 2015 hingga 2017 pertengahan dia melanglangbuana di dunia panti pijat. 

Panti demi panti silih berganti menjadi saksi bisu perjuangan Angel untuk kedua anaknya.

Angel pun menceritakan pernah bekerja untuk sistem kos kosan. Pada sistem kos kosan ini sistem yang dipakai sama yaitu bagi hasil. 

Dari tarif Rp250 ribu per 60 menit, dia cuma terima Rp75 ribu sebagai upah sisanya masuk ke kantong sang 'koordinator'.

Terus Menerus Ditipu

Suatu saat, dia nekat memutuskan untuk membuka 'usahanya' secara mandiri. 

Berbekal pengalaman dan kesusahan yang ia hadapi selama bekerja kepada orang lain.

"Tahun 2017 akhir teteh memutuskan untuk mandiri. Banyak langganan yang memberi saran untuk buka sendiri. Penghasilan juga jadi murni sepenuhnya buat sendiri," ujar Angel.

Meski begitu, Angel menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membuka usaha sendiri. Karena dia berencana untuk berhenti dari dunia 'gelap' ini.

Sayang, Angel ditipu rekan yang mengajaknya berbisnis. Modal sebesar Rp20 juta ludes dengan dalih usahanya merugi. 

Tak hanya di situ, tabungan sebesar Rp27 juta yang dikumpulkan untuk kebutuhan masa depan anak anaknya raib diambil penipuan via telpon.

"Saya tuh udah pengen berhenti sebenernya, sengaja nabung buat keperluan anak anak saya. Eh nasib berkata lain, tapi saya bertekad jika anak sulung saya lulus SMP saya sudah berjanji untuk meninggalkan profesi ini," tambah Angel.

Pandemi Covid-19 pun ikut menerjang profesi yang digeluti. Penghasilannya semakin menurun mengingat pria hidung belang langganannya takut untuk menggunakan jasanya.

"Covid dateng mah udah, dapet sehari satu pelanggan aja udah syukur. Mungkin ini emang pertanda teteh harus segera berhenti dari profesi yang sebenernya hati kecil mah menolak. Minta do'anya aja supaya teteh dapet jalan yang lebih baik ya buat menghidupi anak-anak," tutupnya.

Begitulah sepenggal kisah kehidupan sang ''kupu-kupu malam'' di Bandung. Sebagian mereka berharap ke depannya mampu lepas dari jerat dunia kelam ini. Bagaimana dengan kondisi di kota kamu?

sumber\foto | ayobandung\ayoindonesia\pixabay

reporter | mey

asli

Share:
Komentar

Berita Terkini