Lansia Berisiko Tinggi Menderita Hipertermia, Ini Penyebabnya

Editor: kairos author photo

 

Penderita hipertermia pada lansia usia 65 tahun ke atas. foto | klikdokter

kairos - LANSIA (lanjut usia)  atau mereka yang berusia 65 tahun ke atas lebih berisiko menderita hipertermia. Lantas, apa yang menyebabkannya? Berikut penjelasannya.

Sekadar diketahui Hipertermia merupakan suhu tubuh yang sangat tinggi dan tidak normal. 

Suhu normal pada manusia berada pada 35 derajat celcius. Namun, orang dengan hipertermia memiliki suhu tubuh yang dapat mencapai 40 derajat celcius. 

Hipertermia bisa menyerang siapa saja, tetapi risikonya dikatakan lebih tinggi pada lansia. 

Ketika menyerang lansia, suhu tubuh yang terlalu panas ini pun memerlukan penanganan yang tepat.

Ketahui penyebab hipertermia pada lansia dan cara mengatasinya melalui ulasan berikut.

dr Theresia Rina Yunita menjelaskan, memang benar orang dengan lanjut usia memiliki risiko lebih tinggi terhadap kondisi ini. Penyebabnya pun beragam. 

Salah satunya, obat-obatan yang diminum untuk mengobati penyakit tertentu. 

Orang tua dengan masalah medis kronis biasanya minum obat secara teratur. Beberapa obat dapat menghambat kemampuan tubuh untuk mengatur suhu.

“Obat-obatan seperti diuretik, obat penenang, serta obat jantung dan tekanan darah dapat menyebabkan berkurangnya keringat yang menjadi faktor penyebab hipertermia,” ucap dr. Theresia. 

Menurut The National Institutes on Aging, faktor lain yang juga meningkatkan risiko hipertermia pada orang tua adalah:

> Perubahan terkait usia pada kulit, seperti sirkulasi darah yang buruk dan kelenjar keringat yang tidak berfungsi maksimal.

> Penyakit jantung, paru-paru, dan ginjal, serta penyakit apa pun yang menyebabkan kelemahan umum atau demam. 

> Tekanan darah tinggi atau kondisi lain yang memerlukan perubahan pola makan, seperti diet rendah garam. 

> Kelebihan berat badan atau kekurangan berat badan. 

Selain itu, melansir BetterHealth, masalah dalam perawatan dan lansia yang hidup sendiri juga dapat menjadi faktor penyebab terjadinya hipertermia. 

Tanda atau gejala hipertermia pada lansia biasanya tergantung pada penyakit yang berhubungan atau menjadi penyebab naiknya suhu tubuh mereka.

Namun, beberapa kemungkinan gejala hipertemia pada lansia termasuk:

> Kulit panas dan kering

> Pucat

> Detak jantung cepat

> Kram otot

> Mual dan muntah

> Disorientasi dan kebingungan

> Mengigau

> Pingsan atau koma

> Memburuknya kondisi medis yang sudah ada sebelumnya

Jika lansia mengalami gejala penyakit panas ringan hingga sedang, sebaiknya segera atasi untuk mencegah terjadinya hipertermia. Beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain:

> Hentikan aktivitas fisik dan istirahatlah di lingkungan yang sejuk dan berventilasi baik.

> Lepaskan pakaian yang tebal atau ketat dan ganti dengan pakaian yang lebih tipis. 

> Minumlah minuman yang sedikit asin untuk menggantikan elektrolit yang hilang. Bisa dengan minuman olahraga atau mencampur air dengan beberapa sendok garam. Hindari minuman berkafein terlebih dulu.

> Oleskan kompres dingin ke kulit.

> Jaga agar kulit yang ruam atau teriritasi tetap kering. Oleskan bedak atau salep untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat ruam.

> Regangkan otot-otot yang kram dengan lembut.

> Orang yang tinggal sendiri, cenderung lemah, dan terbaring di tempat tidur atau sakit mental, harus selalu dicek keadaanya setidaknya dua kali sehari. Pastikan tingkat suhu tubuh dalam keadaan normal.

Jika suhu tubuh yang tinggi pada lansia, tidak kunjung menurun atau terlihat mengkhawatirkan, Anda dapat membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

sumber\foto | KlikDokter

reporter | yey

asli

Share:
Komentar

Berita Terkini