Pers, Industri yang (Sering) Gadaikan Idealisme dan Profesionalisme

Editor: kairos author photo

 

foto | kompasiana

opini | PANDAPOTAN SILALAHI

kairos - BICARA tentang Pers Indonesia, tidak melulu tentang wartawan. Di sana ada pengusaha yang mendirikan sebuah perusahaan penerbitan pers (media cetak, elektronik maupun online). Kemudian ada pula organisasi pers, yang belakangan Dewan Pers hanya mengakui 10 jenis organisasi yang salah satunya PWI, berulang tahun setiap 9 Februari.

Entah kebetulan atau tidak, sesuai Keputusan Presiden Nomor 5 tahun 1985 di tanggal itu pula diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN).

Jadi prinsipnya, merayakan Hari Pers Nasional (HPN) bukan melulu wartawan yang bernaung di dalam organisasi PWI. Karena sejatinya, HPN bukanlah PWI, apalagi milik PWI. 

Semua wartawan dan perusahaan pers yang tergabung dalam 10 organisasi itu berhak merayakan HPN.

Tapi saya, bukan mau bicara soal perayaan seremonial HPN yang tahun 2022 ini dipusatkan di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Berani Lantang, Suarakan Aspirasi dan Kebenaran

Hal yang memprihatinkan, hingga kini pekerja pers (wartawan) rasanya masih sering 'menggadaikan' idealisme. Profesionalitas seorang wartawan terkadang terabaikan dan tergadaikan.

Kalau mau jujur, Pers Indonesia saat ini masih dalam tahap menuju ke arah profesionalitas. Belum bisa dikatakan profesional.

Mau bukti? Banyak perusahaan pers begitupun dengan para pekerjanya belum mampu mandiri apalagi tegas terhadap pemerintah.

Sebagaimana pers yang kita cita-citakan, harus mau bersuara lantang, berani menyuarakan kebenaran dan mampu menyejahterakan wartawannya.

Pertanyaan selanjutnya, sudah sejahterakah para wartawannya? Akh, jangankan menyejahterakan para karyawan, untuk bertahan hidup saja pun sudah syukur. Karena memang 'survive' sebuah perusahaan pers ditandai dengan banyaknya iklan yang wara wiri di media itu.

Dewan Pers sejatinya sudah bisa melaksanakan 'sensus' terhadap pers di negeri ini. Faktanya, banyak pers yang ibarat 'hidup segan mati tak mau', kondisinya terseok-seok, media yang katanya terbit harian (setiap hari) kenyataannya media ''bulan sabit'' terbit saat munculnya bulan sabit.

Bagaimana mungkin sebuah perusahaan pers mau eksis bertahan hidup, jika pemasukan ke perusahaan itu sendiri (lewat iklan) tidak ada? Lembar per lembar surat kabar itu hanya diisi berita, tidak ada iklan?

Memprihatin memang. Saya tak punya sentimen apa-apa terhadap media apapun. Saya cuma mengungkapkan fakta.

Perusahaan media yang terkesan hidup dipaksakan menjadi bencana besar terhadap kehidupan pers kita.

Sungguh diluar nalar akal sehat, perusahaan media bisa eksis tanpa pemasukan (pendapatan). Sehingga Wajar saja banyak perusahaan pers yang gulung tikar dan menjadi media edisi 'bulan sabit' itu. Karena tidak mampu menghidupi biaya operasional.

Seorang pengusaha surat kabar harus merogoh kocek yang tak sedikit. Bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Mau tahu rinciannya? Sebutlah misalnya biaya sewa gedung yang dibayar per tahun, biaya karyawan (termasuk wartawan), biaya percetakan, bayar listrik, air, telepon dan jaringan wifi (internet).

Ini semua ditanggung para pengusaha. Maka tak heran, ditengah perjalanan sebuah media harian 'disulap' jadi mingguan. Besarnya biaya pengeluaran media itu berubah 'wujud' menjadi media dwi mingguan, berubah lagi menjadi media bulanan hingga akhirnya jadi media 'bulan sabit'.

Tahun ini, dalam moment HPN yang dipusatkan di Kendari, saya hanya mau mengajak para pengusaha pers untuk tidak ikut-ikutan memaksakan diri. Kalau sekiranya tak bisa eksis, tak sanggup bertahan hidup, tak ada salahnya 'menyerah' dengan menutup perusahaan itu. Setidaknya tak ikut-ikutan menggadaikan profesionalitas dan idealisme pers sebagaimana yang sudah kita cita-citakan.

Itu sebabnya sebagian pengusaha meninggalkan bisnis media cetak hingga beralih ke media online, yang nota benenya biasa operasionalnya tak terlalu bengkak.

Teknologi Revolusi Industri 4.0

Nah, sudah saatnya Dewan Pers memberi 'penalti' terhadap perusahaan-perusahaan yang tidak sehat seperti media 'bulan sabit' itu.

Karena kalau ini dibiarkan, perusahaan itu bisa dipastikan tak bakalan profesional apalagi idealis. Padahal sekarang zamannya sudah trend teknologi revolusi industri 4.0, kita justru masih dalam tahap menuju profesional.

Jadi jangan biarkan mereka para pengusaha media dan wartawan menggadaikan semua itu.

Selamat Hari Pers Nasional, 9 Februari 2022!

Penulis Pandapotan Silalahi, penikmat masalah-masalah sosial, politik dan perkotaan. 

Warga Kota Medan yang kini berdomisili di Cimahi, Bandung-Jawa Barat.

08022022

sumber\foto | kompasiana.com

reporter | agung

Share:
Komentar

Berita Terkini