Ssst... Cegah Obesitas Bayi dengan ASI

Editor: kairos author photo

 

Cegah obesitas bayi dengan selalu memberi ASI. foto | klikdokter

kairos - BANYAK manfaat ASI (air susu ibu). Ini terbukti membawa banyak dampak positif bagi perkembangan dan kesehatan bayi. Bahkan, ada yang bilang, ASI bisa mencegah obesitas pada bayi. Apakah ini terbukti? Yuk, cek faktanya di sini!

Memiliki anak yang sehat, idaman semua orangtua. Namun, agar harapan itu bisa tercapai, banyak hal yang harus dipersiapkan sejak dini. Salah satunya adalah memberikan ASI yang memadai.

ASI memiliki kandungan gizi yang sesuai untuk mendukung tumbuh kembang si kecil. Karenanya, pemberian ASI tidak akan menyebabkan obesitas pada bayi

Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyebut pemberian ASI secara rutin dapat menurunkan risiko obesitas hingga 25%.

Lain halnya jika bayi Anda diberikan susu formula sebagai pengganti ASI. Jika bayi mengonsumsi susu formula dengan takaran yang tidak sesuai atau berlebihan, ia berisiko lebih tinggi mengalami obesitas.

Sejak lahir, bayi mempunyai kemampuan untuk mengatur asupan ASI. Ditambah, ibu juga punya kemampuan untuk mengenali keadaan dan isyarat-isyarat bahasa tubuh bila buah hati sudah kenyang.

Kombinasi ini membuat proses pemberian ASI tepat sasaran, sehingga tidak terjadi kelebihan asupan yang meningkatkan risiko obesitas pada bayi.

Di samping itu, bayi yang menyusu langsung dari payudara cenderung tidak akan minum ASI secara berlebihan. Ketika merasa kenyang, si kecil akan berhenti mengisap. Hal itu membuat mereka terhindar dari konsumsi ASI berlebih.

Sebaliknya, mengonsumsi susu dari botol bisa memicu munculnya pola pikir (mind-set) bahwa bayi harus selalu menghabiskannya tanpa memperhatikan takarannya dengan saksama. 

Apabila kondisi itu terjadi terus-menerus, akan terbentuk kebiasaan bahwa makan adalah soal jumlah dan waktu, bukan tentang rasa lapar. 

Padahal, belajar untuk makan hanya ketika lapar dan berhenti saat kenyang merupakan kemampuan yang penting untuk mencegah obesitas alias berat badan berlebih.

Makanya, American Academy of Pediatrics (AAP) memunculkan sebuah slogan, yaitu responsive feeding. 

Artinya, orangtua harus mengetahui tanda-tanda si kecil sedang lapar atau kenyang. Mottonya adalah: orangtua menyediakan makanan, anak yang memutuskan. Dengan demikian, tetap konsisten memberi ASI bisa menjadi salah satu cara mencegah obesitas pada bayi. 

Pada dasarnya, bayi akan berhenti minum ASI dari payudara ibu apabila ia sudah kenyang. 

Orangtua perlu memberi stimulus kepada bayi agar dapat memperoleh manfaat ASI dengan maksimal. Berikut caranya:

Inisiasi Menyusui Dini

Mulailah memberikan ASI kepada bayi segera setelah ia lahir di rumah sakit. Hal tersebut biasa disebut sebagai Inisiasi Menyusu Dini (IMD). 

IMD dilakukan dengan cara meletakkan bayi di dekat payudara ibu, dan membiarkannya berusaha mencari sendiri puting susu. 

Berikan ASI dari Payudara

Berikan ASI langsung dari payudara. Hindari menggunakan botol, utamanya pada 3 bulan pertama. 

Ingat, pemberian ASI secara langsung akan mengajarkan bayi untuk menyusu hanya ketika lapar dan berhenti saat kenyang. 

Jika Anda memberikannya lewat botol besar, bukan tak mungkin mereka akan terus mengonsumsi ASI tersebut sekalipun sudah kenyang.

Posisi Menyusui yang Nyaman

Apa pun posisi menyusui yang nyaman bagi Anda, pastikan untuk tetap memberikan dukungan kepada si buah hati. 

Anda bisa menggunakan bantal atau tangan untuk menahan posisi bayi ketika sedang menyusui. Intinya, apa pun posisi yang dipilih, pastikan tetap nyaman bagi Anda dan bayi.

Perhatikan Respons Bayi

Jika bayi berhenti mengisap payudara, Anda perlu memastikan, apakah harus mengganti posisi menyusui atau menyudahi pemberian ASI. 

Hal ini bisa Anda putuskan setelah memperhatikan respons bayi dengan saksama. Anda bisa memberikan rangsangan dengan mengelus lembut bagian tepi mulut si kecil. 

Nah, jika dia tak merespons, Anda bisa menghentikan pemberian ASI. 

Semoga info ini bermanfaat.

foto\sumber | KlikDokter

reporter | mey

asli

Share:
Komentar

Berita Terkini