Benarkah Covid-19 Memicu Penyusutan Otak?

Editor: kairos author photo

 

Otak manusia yang disebut-sebut rusak akibat Covid-19. foto ilustrasi | klikdokter

kairos - IROSNIS. Sebuah studi menemukan infeksi COVID-19 dapat menyebabkan penyusutan otak. Simak efek Covid pada otak berikut ini.

Telah ditemukan perbedaan yang signifikan pada hasil MRI otak pasien, sebelum dan setelah terinfeksi COVID-19.

Pemindaian otak sesudah infeksi virus corona menunjukkan lebih banyak hilangnya gray matter, penyusutan ukuran otak, dan kerusakan jaringan. Sebagian besar hal ini terjadi di area otak yang berkaitan dengan ingatan dan penciuman.

Apakah penyusutan otak akibat COVID-19 terjadi secara permanen pascainfeksi? 

Penelitian mengenai efek COVID pada otak manusia telah diterbitkan dalam jurnal Nature. Studi ini diyakini sebagai studi pertama yang melakukan perbandingan pemindaian otak sebelum dan sesudah seseorang terinfeksi virus corona. 

Penelitian melibatkan subjek dengan rentang usia 51-81 tahun. Seluruh peserta telah melakukan pemindaian otak kira-kira tiga tahun sebelum pandemi COVID-19. Peserta dibagi menjadi dua kelompok. 

Kelompok 1 sebanyak 401 peserta telah dinyatakan positif virus corona. Semuanya terinfeksi antara Maret 2020 dan April 2021.

Sebanyak 384 peserta lainnya masuk kelompok kontrol karena tidak terinfeksi virus corona. Namun, mereka memiliki karakteristik yang mirip pasien terinfeksi dalam berbagai hal, seperti usia, jenis kelamin, riwayat medis, dan status sosial-ekonomi.

Para peneliti mengatakan, pada kasus normal seseorang akan kehilangan sebagian kecil materi abu-abu setiap tahun. Misalnya, di daerah yang terkait memori, kehilangan tahunan yang khas adalah antara 0,2 persen dan 0,3 persen.

Pemindaian pada para pasien COVID-19 menunjukkan mereka mengalami antara 0,2 persen dan 2 persen kehilangan materi abu-abu tambahan di daerah otak yang berbeda selama 3 tahun lebih banyak. 

Hal ini dibandingkan dengan peserta yang tidak terinfeksi. Padahal, pemindaian dilakukan empat setengah bulan setelah peserta terinfeksi. 

Para peneliti juga melihat, mereka yang terinfeksi COVID kehilangan lebih banyak volume otak atau mengalami penyusutan otak secara keseluruhan.

Orang dengan virus corona juga menunjukkan penurunan yang lebih besar dibanding orang yang tidak terinfeksi pada tes kognitif terkait perhatian dan efisiensi dalam melakukan tugas kompleks. 

Profesor Gwenaelle Douaud dari Wellcome Centre for Integrative Neuroimaging, University of Oxford, mengatakan kehilangan gray matter paling signifikan terjadi pada bagian penciuman. 

Namun, tidak diketahui apakah virus menyerang bagian tersebut atau sel lainnya juga secara langsung.

Menurut Prof. Douaud, otak bisa menyembuhkan diri sendiri. Kemungkinan besar, seiring waktu efek berbahaya dari infeksi akan berkurang.

Dalam studi itu juga tidak dijelaskan apakah semua varian virus COVID-19 dapat menyebabkan kerusakan otak atau tidak.

Pemindaian dilakukan ketika gelombang pertama terjadi, yakni saat virus asli dan varian Alpha tersebar luas di dunia. Hilangnya penciuman dan pengecapan merupakan gejala utama dari kedua varian ini.

Sedangkan, jumlah orang terinfeksi varian Omicron yang melaporkan gejala hilang penciuman telah turun drastis.

Kesimpulannya, penelitian yang ada mengenai penyusutan otak pada virus corona masih terlalu kecil. Dibutuhkan lebih banyak data dan penelitian untuk menarik kesimpulan apakah coronavirus benar menyebabkan penyusutan otak atau tidak. 

sumber\foto | klikdokter

reporter | yey

asli

Share:
Komentar

Berita Terkini